Pernahkah anda menyadari, betapa lucu dan orisinilnya ketika si kecil bertanya? Pertanyaan yang mereka lontarkan betul-betul pertanyaan murni yang menunggu jawaban. Ini berbeda sama sekali dengan pertanyaan seorang wartawan yang cenderung tendensius dan ‘suspicious’ alias penuh kecurigaan.
Tiap kali si kecilku bertanya seperti itu, aku selalu tanpa sadar tersenyum dan memaklumi, betapa ‘amazing’nya cara Allah mengajar mereka untuk mendapat pengetahuan. Allah menginspirasi mereka dengan menjadi ‘lidah’nya si kecil. Masya Allah. Dan Allah menginspirasi mereka dengan berbagai kepenasaranan yang menuntut jawaban.
Aku ingat ketika si sulungku yang kini berusia 14 tahun, bertanya padaku sepulang dari Jum’atan bersama abe-nya. Saat itu dia baru usia 3 tahun. Begitu tiba di rumah, ia datang memburuku, “Momi bilang mesjid adalah rumah Allah, kenapa tadi Ahmad tidak melihat Allah di mesjid?”
)
Alih-alih menjawab, aku malah melepas tawa karena tak bisa menahannya di perut. Saat itu aku menjawab, “Allah itu sangat Pemalu. Ia tak suka dilihat oleh siapa saja kecuali yang Dia ingin melihatnya. Tapi Ahmad lihat namaNya di mesjid ‘kan?”
Nah, kali lain, dia bertanya lagi. “Momi bilang Allah itu Besar, sebesar apa sih?”
Hmhm, walau pun pertanyaan ini sangat polos dan sederhana, tetapi tak begitu dengan jawabannya. Salah salah menjawab malah bisa dituding syirik oleh kalangan awam. Begitu banyaknya pertanyaan kreatif yang dilontarkan anak-anakku sehingga aku harus selalu siap menjawab mereka. Dan aku memanfaatkan momen itu dengan mengajar mereka sesuai pemahamannya sebagai bocah yang tak pantas dijejali hal-hal mumet.
Apa kiat? Dan bagaimana cara menemukan jawaban yang tentu saja tak boleh nyeleneh dari kebenaran?
Hmhm… aku punya kuncinya. Itu adalah AlQuran al Karim. Ya, apa pun yang si kecil tanya, aku selalu merujuk pada Alquran. Karena di sana, terdapat semua jawaban. Bedanya, untuk menjelaskan pada si kecil yang otaknya belum bekerja maksimal, kita tentu harus pintar-pintar memilih bahasa dan ungkapan agar mudah dipahami oleh mereka. Selain itu, sebagai orangtua kita juga harus memahami penjelasan ilmiah sehingga bisa menjelaskan berbagai hal ruhani dengan pendekatan yang lojik.
Sebenarnya, kenapa sih Allah mengilhami setiap manusia rasa ingin tahu dan kepenasaran yang begitu besar? Tak lain dan tak bukan supaya kita bisa mengenaliNya ‘kan? Karena konon, Allah sangat rindu dan ingin dikenali oleh para hambaNya. Hmmm…
Sebagai khasanah tersembunyi sesungguhnya Ia tak pernah menyembunyikan Dirinya dari kepahaman para hambaNya. Masalahnya, sejauh mana kepahaman kita? Maka Ia akan mewujud dan mengenalkan Dirinya sesuai kemampuan kita untuk mengenaliNya. Ilmu itu pula yang diperintahkan pada Rasulullah SAW dalam menyiarkan dan menjelaskan khasanah dan hakikat Islam. Bahwa Rasulullah selalu berbicara pada setiap orang dengan bahasa dan kemampuan akal orang tersebut. Sangat masyhur sebuah hadist yang menjelaskan tentang adab Rasulullah itu. Dimana beliau bersabda, “Kalau saja Salman tahu apa yang aku bicarakan pada Abudzar Giffari, tentu ia akan menuduhku sesat. Dan kalau saja al Giffari tahu apa-apa yang aku bilang pada Salman, maka ia pasti akan membunuhku…”
Jadi, ya begitulah, segala sesuatu punya standarnya sendiri. Dan ketika si kecil banyak bertanya tentang segala sesuatu, please… sabarlah untuk menjelaskan padanya segala yang dia mau tahu. Itu merupakan kesempatan emas untuk memperkenalkan mereka pada Pemilik semesta yang juga satu-satunya penyebab keberadaan mereka di dunia fana. Dengan mengenalkan mereka sejak dini pada Kekuasaan Tertinggi, Insya Allah pengajaran itu akan menjadi sumbangsih terbesar sepanjang hidupnya. Dan Allah suka mengenalkan Dirinya pada yang ingin mengenaliNya…***
