Tak semua orang bisa mempercayai mimpi. Ada yang cuma menganggapnya sebagai bunga tidur atau semacam beban pikiran yang terbawa hingga alam bawah sadar. Tetapi banyak pula yang menerimanya sebagai sasmita atau tanda dari Yang Tertinggi. Dan di antara mimpi itu sendiri ada dua kategori, yakni mimpi yang begitu nyata seolah benar terjadi dan tetap jelas dalam benak walau tahun-tahun telah berlalu. Ada pula mimpi yang tanpa makna sama sekali sehingga walau pun baru semenit lalu terjadi namun kita tak bisa mengingatnya sama sekali.

Dan bagi saya pribadi, mimpi adalah sebagian sign atau tanda yang Allah titipkan kepada siapa saja yang Dia mau. Jika pada para Anbiya, Allah mengirimkan wahyu yang dibawa langsung oleh Ruhul Kudus Jibrail, maka kepada para Auliyanya, Allah membisikkan ilham dan hatif ke dalam sukma mereka. Ada pun kepada manusia biasa yang masih penuh lalai dan nista akan berbagai dosa, Allah cuma mengkomunikasikan tanda-tanda itu melalui mimpi di mana saat itu si ‘lalai’ tengah tidur dan ruhnya tengah melayang di alam berbeda. Dan saat itu, ruh-ruh itu berada dalam genggamanNya dalam keadaan murni karena terbebas dari nafsu manusiawinya sehingga sesuatu yang suci bisa memasukinya. Itu adalah mimpi yang dicurahkan Allah pada sebuah jiwa yang sedang tanpa daya dan tanpa kuasa untuk menolak sebuah kekuatan yang transit dalam alam bawah sadarnya.
Karena, pernahkah ada seseorang yang bisa memilih mimpi sesuai kesukaannya? Mampukah anda menolak sebuah mimpi seram ketika ia mulai memasuki alam bawah sadar anda?
Menuntun Saya Pada Sebuah Kenyataan
Secara jujur, kehidupan real saya banyak dipengaruhi oleh mimpi. Bukan berarti saya seorang pemimpi. Sebaliknya, saya adalah seorang yang super realistis. Tetapi mimpi-mimpi yang pernah terjadi sejak saya usia 6 tahun dan berlanjut hingga kini, banyak sekali yang menjadi nyata. Itu makanya saya sering kali mengalami ‘deja vu’ di mana ketika melihat sebuah tempat, seseorang atau sebuah peristiwa, saya merasa pernah melihat itu sebelumnya. Dan seringkali, saya begitu mudah menafsirkan sebuah mimpi yang terjadi sehingga menjadikan saya sebagai seorang yang kurang excited ketika mengalami sebuah kejutan. Karena terus terang, beberapa hal itu sudah singgah dalam alam tafsir dan praduga saya.
Salah satu mimpi yang saya selalu mengenangnya sebagai sebuah penjelasan dari ayat-ayat Allah adalah… terjadi 9 tahun lalu. Saat itu saya masih seorang wartawan politik di sebuah media ibukota. Mimpi itu terjadi sekitar jam 3 dini hari. Saya seolah berada di sebuah tempat yang hening, di sebuah rumah sederhana di atas bukit yang memiliki halaman luas dengan rerumputan yang menghampar bak permadani. Dan saat itu, suasana yang tercipta adalah malam purnama yang begitu temaram. Saya menengadah ke atas menatapi purnama yang begitu elok… dan ternyata, keindahan di atas sana bukan sekedar purnama tetapi seluruh langit adalah indah tiada tara. Lengkungan langit yang terasa bak payung lebar yang sedang menaungi saya itu… penuh berisi ayat-ayat Allah yang saya ‘merasai’ dan ‘memahami’-nya sebagai ‘Jauzan Kabir’. Oh, sungguh-sungguh indah. Keindahan yang luar biasa dan tanpa tara. Seandainya saya bisa tetap berada di sana…

Untuk beberapa saat saya terpana dalam kenikmatan yang maha tenang. Dan tiba-tiba seorang pengemis datang pada saya. Saat itu saya cuma punya uang Rp 8500. Maka saya memberikan padanya Rp 3500 karena saya masih membutuhkan Rp 5000 lainnya untuk pergi wawancara dengan seorang narasumber. Tetapi, pengemis itu menolak dan bilang, “Saya ingin yang lima ribu itu…”
Saya tak berkata apa-apa tetapi seketika saya ingat sebuah hadist qudsi yang menyatakan, “Jika engkau mendermakan sedikit hartamu dengan ikhlas karena Allah Ta’ala maka Dia akan membalas dan melipatgandakannya menjadi sepuluh kali lebih banyak…”
Maka saya memberikan uang lima ribu saya dan menerima Rp 3500 yang dikembalikannya.
Paginya, saya bangun dan mempersiapkan diri untuk pergi ke kantor. Mimpi itu tetap dalam benak saya baik ketika saya mandi atau pun ketika saya sedang dalam perjalanan ke kantor. Tiba di kantor, saya melihat Jeffri dan beberapa teman sedang bercanda di ruang tamu. Saya cuma senyum-senyum sama mereka tanpa berniat gabung. Tiba-tiba Jeffri mendekati saya di balik pintu dan memberikan sebuah amplop yang cukup tebal, “Ini uang lo…”
Saya terheran-heran menatapinya. “Yang bener lu? Gajian masih lama ‘kan?” cetus saya tak yakin.
“Bener, ini uang lo. Ambil deh…” dia meletakkannya di tangan saya.
Masih dengan ragu tapi ingin tahu, saya menerima amplop putih itu dan membukanya di meja saya. Wow… saya menatapi lembaran uang yang masih sangat keras pertanda baru dikeluarkan dari bank sejumlah Rp 500.000. Saya menoleh Jeffri dan dia cuma mengedipkan mata kanannya.
My God, dari mana uang ini? Kenapa Jeffri bilang bahwa itu uangku? Dan tiba-tiba, aku ingat mimpi semalam… ya Allah, inikah penjelasan dari ayat-ayatMu? Masya Allah! ***