Kepercayaan adalah sebuah harta yang harus dijaga. Ini benar adanya dan bukan sekedar omong kosong. Aku adalah yang sangat percaya dalam hal ini. Apalah artinya hidup tanpa sebuah kepercayaan; kepercayaan terhadap Allah, kepercayaan terhadap takdir, terhadap orang lain bahkan terhadap diri sendiri.
Ini adalah hal yang begitu melekat di dalam diriku. Kadang aku heran jika ada orang yang tak percaya padaku padahal aku sendiri menyimpan kepercayaan padanya, misalnya. Tetapi untuk menjadi seperti ini, sesungguhnya aku belajar dari sebuah pengalaman ketika masih berada di sebuah kampus, di Kota Kembang. Saat itu aku adalah seorang mahasiswa Jurnalistik dan tinggal di asrama dengan beberapa teman perempuan. Walau pun aku sekamar dengan Pipin, seorang dari Jasinga-Bogor, tetapi aku akrab juga dengan teman lain kamar. Layaknya gang perempuan, kita kompak dalam hal apa pun.
Walau pun aku agak tomboy tetapi aku bisa menyatu dengan mereka. Salah satu teman yang sangat dekat denganku adalah Sri, seorang gadis Sukabumi. Walau pun Sri tidak bisa dibilang langsing, tetapi dia sangat cantik. Kulitnya putih dan hampir tiada noda. Ia juga seorang manja dan berasal dari sebuah keluarga yang mapan secara finansial. Saat itu, dia juga punya seorang pacar yang sudah bekerja di sebuah bank yang cukup bergengsi. Hmhm… ini kadang membuat kami cemburu. Abis, aku dan yang lainnya masih seperti gadis belia yang cuma suka hura-hura dan tak terpikir untuk memiliki seseorang. Tetapi setiap kali kita melihat kedekatan Sri dengan tunangannya itu, mau tak mau kita memikirkan juga untuk punya seseorang yang bisa ‘dipikirkan’ dan ‘memikirkan’… ^-^
Kepercayaan
Suatu hari ia datang ke kamarku dan menangis. Ini seringkali terjadi. Setiapkali punya problem ia pasti datang padaku untuk curhat.
Tanpa ba bi bu lagi ia langsung menumpahkan isi hatinya, “Sri sedih sekali hari ini. Masa ada yang baca surat-surat pribadi Sri. Berani sekali orang yang membuka dan membaca surat pribadi orang…” katanya sambil menyeka air matanya.
Aku terhenyak. Aku tahu dan semua orang yang tinggal di asrama pun tahu di mana Sri menyimpan koleksi surat-surat cintanya. Itu adalah di sebuah kantung gantung di dinding depan tempat tidurnya. Dan kemarin, adalah aku yang membukanya bersama teman-teman. Kalau yang dicari adalah ‘biang kerok’nya pastilah aku yang kena karena aku yang memulai dan yang lain cuma nimbrung saja.
“Ke kamar Sri, yu?” ajaknya segera setelah tangisnya reda seraya menggamit tanganku menuju kamarnya.
Terus terang aku agak cemas tetapi entah mengapa aku tak juga berterus-terang padanya bahwa akulah si pelaku yang membuka surat pribadinya. Oh… aku merasa sangat malu dan nista karena telah mengkhianati kepercayaannya. Dan dia, seraya tetap menggamit tanganku, berjalan menuju kamarnya. Di sana telah berkumpul, Ani, Anna dan Rugaya. Mereka menatapiku penuh makna hingga membuatku salah tingkah.
“Koq ada sih yang berani buka-buka surat orang? Siapa nih yang buka surat Sri?” suara Sri tiba-tiba lantang dan memandang berkeliling dengan marah tetapi tidak padaku.
“Siaaapa? Bukan kita… Tuh dia!” jawab Ana dan langsung menunjuk padaku.
Oh…! Aku sangat kikuk sekali dan cuma memandang pada Sri tanpa sanggup berkata. Begitu pula Sri, dia memandangku tanpa berkedip dan tatapannya… duh, membuatku sangat makin merasa nista dan berdosa.
“Sungguh, kamu, Yo? Oh, koq begitu? Padahal Sri sangat mempercayaimu…” kata-katanya menghilang dan tersekat di kerongkongannya. 
Aku tak berkata apa pun. Tak sanggup. Bahkan aku tak yakin sekarang, apakah saat itu aku meminta maaf atau tidak? Tetapi, sungguh… ! Momen itu tak pernah bisa terbuang dari ingatanku kendati waktu telah bergulir selama 17 tahun sejak peristiwa itu terjadi. Dan sejak kami lulus dari akademi itu tak pernah sekali pun aku bertemu dia. Namun peristiwa itu telah mengakar dalam benakku sehinggga kini aku selalu berusaha sedaya upayaku ketika sebuah amanah ditaruh dipundakku. Bagiku itu adalah sebuah beban yang harus dipertanggungjawabkan. Dan untukmu Sri, di mana pun kamu berada, tolong maafkan aku…(***)
