evening in Istanbul…

Evening In Istanbul…

Seuntai kata ini terasa begitu indah di kuping. So romantic. Bak sebuah obsesi, aku begitu memujanya. Padahal, aku sendiri tak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi ketika aku tiba di Istanbul?

Aku hampir yakin bahwa semua orang tahu kalo Istanbul adalah sebuah kota besar di Turki. Iya nggak sih? Hmmm… bicara tentang Turki selalu menghadirkan debar tersendiri di jantungku. Entah apa yang telah, sedang dan akan terjadi, aku tak tahu. Yang jelas, Turki punya tempat tersendiri di hatiku. Awalnya sih, aku menonton sebuah saluran tv Turki di parabola sekitar lima tahun lalu. Seringkali saluran ini cuma memutar kelompok orkestra dan lagu-lagu pop yang sangat hingar dengan penyanyi perempuan yang terlihat pusarnya. Aku pikir, seronok sekali penyanyi di negeri itu. Dan aku agak shock karena hampir 99% populasi di negeri itu justeru muslim. Wow! Nggak salah nih? Apa terjadi dengan mereka… pikirku.

Di kawasan Armutlu Tatil Koyü, sebuah tempat liburan keluarga dengan multi fasilitas kebugaran. Sangat sanitaris mengingatkan saya pada film "Island".

Kebetulan suamiku sendiri pernah tinggal di Turki jauh sebelum bertemu denganku. Maka, darinya aku banyak menyerap berbagai cerita tentang negeri tersebut. Beliau menceritakannya dengan penuh kesan sehingga yang tertanam di benakku adalah fantasi manis nan romantis. Maka, diam-diam, aku mulai menyukai negara itu dan pada saudara yang kerja di Amrik, aku menitip pesan untuk dibelikan beberapa album klasik Turki. Hmmm… aku mendapatnya beberapa. Membuatku sangat senang dan ‘memutuskan’ untuk menyukai musik Turki.

Aku bilang ‘memutuskan’ karena ketika aku menyukai sesuatu dan menggandrunginya, itu adalah karena keinginanku sendiri dan bukan dari faktor luar atau pun pengaruh obyek itu sendiri. So mulai saat itu, aku seringkali menghabiskan waktuku dengan menyimak lagu-lagu Turki. Maka aku mulai mengenal Ibrahim Tatlışes, Adnan Senşes, Mahsun Kırmızıgül, Kibariye de el el.  Suara mereka, wow… muerrrdu sekali. Belum pernah aku mendengar suara penyanyi semerdu mereka. Itu memang kemerduan yang asli dan bukan hasil rekayasa teknologi MIDI. Then.. makin sering mendengar musik dan lirik dalam bahasa Turki membuat aku mulai berminat mempelajari bahasanya.

Mesjid Sultan Ahmet di Istanbul...

Aduh biuung… kali ini aku benar-benar merasa ‘great’.  Bagaimana tidak. Pertama, aku suka musik dan lagu Turki. Kemudian aku mulai suka bahasanya yang benar-benar aneh dengan alphabet yang juga nyentrik, dan lebih parah, ternyata aku menemukan diriku sendiri tengah ‘in love’ pada negara itu. Wallahi, ini namanya sebuah keanehan dan sampai sekarang pun aku tetap merasa ‘aheng’ dengan yang terjadi pada diriku perihal Turki. What’s happening?

Pada suamiku, aku tuturkan bahwa aku merasa ada sebuah ikatan antara aku dan Turki. Ikatan seperti apa, aku sendiri tak tahu. Tetapi aku merasa begitu dekat dengan negara itu tanpa bisa menjelaskan, kedekatan macam apakah itu? So, ketika Ramadan yang baru berlalu kemarin aku habiskan setengah waktunya di Istanbul, aku begitu excited;) Mendengar mereka berbicara dalam bahasanya, oh… begitu mengesankan. Itu adalah bahasa yang sangat indah dan harmonis  konjugasinya. Dan sekedar ‘say hello’ aku bisa memulai sebuah percakapan sederhana semisal, “Selamün aleyküm. Nasılsınız?”.  Lantas, biasanya mereka akan menjawab, “Iyiyim”,  “Çok iyi” atau juga  “Hamdolsun”.

Tetapi, sebenarnya ‘nasılsınız’ itu apa sih? Yaa, layaknya salam pembuka, itu tak lain adalah ‘apa kabar’ atau ‘how are you’ dalam bahasa Inggris. Adapun iyiyim, çok iyi dan hamdolsun tak lain dan tak bukan adalah jawaban umum  yang berarti, ‘baik’ atau pun ‘alhamdulillah’.

Brother Country...

Yang lebih mengesankan, ternyata mereka sangat suka ketika tahu bahwa aku dari Indonesia.  Waktu itu aku sedang memilah beberapa barang souvenir buat oleh-oleh teman di Indonesia. “Where are you come from?” tanya pemilik toko.

“Indonesia..” jawabku menatapnya sesaat lantas kembali memilah.

“Indonesia? Oh, muslim. How are you?” wajah bapak pemilik toko itu seketika bersinar dan tersenyum. Ia memilih sesuatu di antara barang jualannya dan meletakkannya di telapak tangan kananku, “Bir hediye…” katanya.

Jembatan Bhosphoros

Oh, aku begitu terpesona dan menatapi barang yang diletakkannya di tanganku sebagai hadiah. Ternyata, itu adalah sebuah stiker magnit bertuliskan ‘ayet el kursi‘, ‘bereket duası‘ dan ‘nazar ayeti‘. Masya Allah.  Sebagai hadiah, itu memang Masya Allah. Dan sebagai ayat, itu pun Masya Allah, yakni terjadi atas kehendak Allah semata-mata. Terus terang, aku sangat tersanjung sekali dengan hadiah yang tiada ternilai itu. Subhanallah wa alhamdulillah.

Di tempat lain ketika aku sedang memilih sebuah hijab atau ‘yazma’ dalam bahasa Turkinya, pedagangnya lagi-lagi bertanya, “Where are you come from?”

Ketika aku bilang dari Indonesia, dia pun segera berseru, “Wow, brother country…”

Hmmm… itu mengingatkanku ketika tiba pertama kali di bandara internasional Kemal Attatturk. Passportku disatukan bersama yang lain yang berasal dari Amerika. Tiba-tiba petugas itu menatapi passport hijau yang tak lain adalah milikku. “Indonesia? Come first… please,” serunya menatapku. Maka aku pun menjadi yang pertama diizinkan masuk lebih dulu di antara rombonganku yang sebagian besar dari Amrik… ;)

Istiqlal…

Mengelilingi Istanbul dan sekitarnya, aku benar-benar merasa familiar setiapkali melihat bentuk kubah masjid mereka. Bentuk dan desainnya mengingatkanku pada kubah di masjid Istiqlal kita. Memang begitu lhoo… persis! Dan gaya berhijab gadis Turki… wah ini dia yang membuat aku heran setengah mati dan membatin tanpa henti. Tahu, kenapa? Gaya itu adalah… gaya yang aku pakai ketika pertama kali aku mulai berhijab yakni sekitar 97 an. Wow… apakah arti semua ini, pikirku. Dan ketika aku menjelang berangkat ke bandara untuk pulang ke Indonesia, seseorang memberiku cinderamata dua helai kerudung ala Turki tradisional. Saat itu, kembali aku dibuat termangu. Itu adalah persis sebuah kerudung yang mengingatkanku pada scarf ibuku puluhan tahun lalu ketika aku masih di SMP. Kain dan motifnya… ya Allah, aku berdesir dan berbisik, what’s the meaning of all these?

Akhirnya, Evening In Istanbul memang terjadi seperti adanya tanpa upaya dariku untuk memframenya. Itu terjadi atas kehendakNya saja. Dan nyata bahwa itu bukanlah sekedar Evening In Istanbul tetapi telah menjadi Everything In Istanbul… ***

2 responses to this post.

  1. Posted by ilmare888 on February 6, 2009 at 2:16 pm

    waaah,,kayaknya ni cerita ngingetin ak ma perasaan ikatan batinku ma negeri Perancis. ternyata ak bukan satu2nya yang pernah merasakan.
    btw,,punya lagu2 mP3 bahasa Turki nggak? boleh dunk bagi,,coz ak dah nyari di Inet susah banget. ak jatuh cinta ma lagu2 turki gara2 dengerin lagu Dansoznya serdar ortac…ternyata bahasa turki nggak jauh beda ya ma bahasa India (ini bahasa yang aku sukai)…kedengerannya C…
    atau kalau nggak ada mungkin bisa rekomendasi judul2 lagu yang ngepop dan punya pelafalan bunyi cukup jelas…thanks

    Reply

  2. Oh, begitu ya?
    Sekarang tinggal di Perancis?
    Perasaan itu memang laksana kerinduan terhadap ‘a soul mate’. ^-^
    Anyway, saya kira saya tahu beberapa situs tentang itu. Insya Allah nanti saya forward ya?

    Makasih sudah berbagi…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.