menjadi ‘belly dancer’ yang diridhai Allah…

:) ))

Ah, yang bener nih? Apa iya, bisa?

Bukankah profesi itu sangat maksiat, karena mengundang syahwat setiap lelaki yang memandang…? Yeah, begitulah.  Memang sih, lelaki mana yang takkan ‘nyut nyutan’ melihat perempuan bertubuh molek menggeliat-geliat dengan gerakan yang berirama dan seolah menawarkan diri selalu…? Apalagi berdasarkan hasil investigasi yang aku  simak di saluran BBC Knowledge, konon laki-laki hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk memikirkan seks. Jadi, hampir seluruh pikirannya selalu berkutat di seputar seks. Giila nggak tuh?

beldancer1Padahal yang namanya perempuan, walau pun ia seorang pecinta seks misalnya, pastilah pikirannya selalu terbagi dengan beberapa hal lain yang ada dalam kesehariannya. Misalnya, hasrat untuk beli sesuatu yang baru, atau rencana mengatur menu untuk makanan siang bahkan memikirkan keperluan bocah-bocahnya yang notabene memang membutuhkan perhatian ibunya.

Maka, kembali ke perihal laki-laki nih, jadinya gak heran ‘kan kalo mereka memang cenderung ingin punya lebih dari satu. Wooo…! Apalagi bagi kalangan muslim, Allah menghalalkannya. Wah, dalam hal ini, perempuan memang benar-benar ditantang untuk berjihad.

Dan kembali ke topik belly dancer alias penari perut, ngomong-ngomong, apa bener ada belly dancer yang diridhai Allah? Hmmm… kalo begitu pasti ramai-ramai perempuan jadi penari perut. Jangankan diridhai, tak diridhai pun buaanyak sekali perempuan memilih profesi itu sebagai andalannya. Ya, namanya perempuan… kan? Tabiatnya memang selalu suka memamerkan  dirinya di hadapan orang lain. Showing wajah, tubuh, aksesoris… everything! Itu mengapa, dalam Islam, perempuan diwajibkan menghijabi dirinya sendiri dari pandangan orang lain yang tak mahram.

Dan kalo dipikir-pikir, profesi belly dancer itu enak juga ‘kan? Tubuh akan selalu indah karena bergerak terus dalam arti lain,  proses pembakaran kalori terus berjalan yang  berarti juga menyusutkan lemak di beberapa bagian yang tak diinginkan… ^-^Hmmm, ini adalah keadaan yang selalu diinginkan oleh hampir setiap perempuan yang perduli terhadap tubuhnya.

Tetapi, bagaimanakah cara menjadi belly dancer yang diridhai Allah?

menari untuk suami...

menari untuk suami...

Ah, itu sih mudah saja. Menarilah di depan suami, ingat, hanya untuk suami! Yes!!!  Itulah yang harus dilakukan oleh seorang isteri untuk menyenangkan suami. Kesenangan dan kepuasan suami sangatlah penting untuk tetap dijaga. Apalagi jika suami kita adalah seorang yang populer di lingkungannya. Wah, ini akan bikin kita ‘kebat-kebit’  ‘kan? Jadi, satu-satunya cara untuk mempertahankan suami untuk selalu tertawan  dengan kita, sebagai isterinya kita harus punya multi peran. Sebagai ibu, teman, isteri sekaligus sebagai kekasih atau ‘cem-cem’annya.  Ingat, bagaimana pun manisnya seorang laki-laki, naluri kelelakiannya selalu tergoda dengan ‘kuda binal’ daripada ‘kucing anggora’. Banyak kasus di seputar kita tentang perselingkuhan. Di rumah misalnya, isterinya adalah perempuan cantik, indah, bermartabat dan intelejensi tetapi di luar itu sang suami kepayang terhadap seorang perempuan  yang sama sekali di bawah level isterinya… tahu, kenapa hayoo…??!!!

Tak lain dan tak bukan, itu pasti karena WILnya adalah seorang  ‘kuda binal’. Untuk itu, semua laki-laki selalu berdalih bahwa WIL-nya sangat ‘pengertian’. Padahal ‘pengertian’ di situ pastilah maksudnya karena pengertian terhadap sesuatu di bawah perutnya. Iya ‘kan? Anyway… saya mencerna ini dari pengalaman beberapa laki-laki teman saya yang terlibat perselingkuhan. Sekaligus ini mengingatkanku juga pada pesan bundaku waktu aku masih remaja. Beliau bilang, “Suatu saat ketika kamu punya suami, konsentrasilah hanya pada sesuatu di bawah perutnya. Kalo yang di bawah perutnya puas, dia takkan perduli walau pun kamu nakal atau pun tak bisa masak misalnya…”

Wah, pikir-pikir, bundaku memang ‘cool’ memberiku petuah yang kini sangat dihargai suamiku. Dan salah satu trik seorang isteri untuk menyenangkan ‘something’ di bawah perut itu, ini dia… ‘let’s practise belly dancing…’. Dan menurutku, banyak cara untuk bisa menari ala belly dancer. Belajar dari video atau pun masuk kelas tari. Dan untuk lebih menyemangati diri dengan niat menjaga suami untuk tetap ‘hard on’, belilah satu atau beberapa set busana belly dancer. Bagi seorang belly dancer, busana adalah salah satu kekuatan daya tarik mereka.

Nah, kalo pun misalnya budget kita tak cukup untuk beli sesuatu yang ekstra macam begitu, cukuplah kita bergaya agak sedikit terbuka di hadapan suami… Ingat, laki-laki selalu tertarik dengan visualisasi lho!

Okay, selamat berjihad mengharap ridha Allah!

ketika Allah ingin dikenali…

Pernahkah anda menyadari, betapa lucu dan orisinilnya ketika si kecil bertanya? Pertanyaan yang mereka lontarkan betul-betul pertanyaan murni yang menunggu jawaban. Ini berbeda sama sekali dengan pertanyaan seorang wartawan yang cenderung tendensius dan ‘suspicious’ alias penuh kecurigaan.

Tiap kali si kecilku bertanya seperti itu, aku selalu tanpa sadar tersenyum dan memaklumi, betapa ‘amazing’nya cara Allah mengajar mereka untuk mendapat pengetahuan. Allah menginspirasi mereka dengan menjadi ‘lidah’nya si kecil. Masya Allah. Dan Allah menginspirasi mereka dengan berbagai kepenasaranan yang menuntut jawaban.

Aku ingat ketika si sulungku yang kini berusia 14 tahun, bertanya padaku sepulang dari Jum’atan bersama abe-nya. Saat itu dia baru usia 3 tahun. Begitu tiba di rumah, ia datang memburuku, “Momi bilang mesjid adalah rumah Allah, kenapa tadi Ahmad tidak melihat Allah di mesjid?” :( )

Allah rindu dikenali

Allah rindu dikenali

Alih-alih menjawab, aku malah melepas tawa karena  tak bisa menahannya di perut. Saat itu aku menjawab, “Allah itu sangat Pemalu. Ia tak suka dilihat oleh siapa saja kecuali yang Dia ingin melihatnya. Tapi Ahmad lihat namaNya di mesjid ‘kan?”

Nah, kali lain, dia bertanya lagi. “Momi bilang Allah itu Besar, sebesar apa sih?”

Hmhm, walau pun pertanyaan ini sangat polos dan sederhana, tetapi tak begitu dengan jawabannya. Salah salah menjawab malah bisa dituding syirik oleh kalangan awam. Begitu banyaknya pertanyaan kreatif yang dilontarkan anak-anakku sehingga aku harus selalu siap menjawab mereka. Dan aku memanfaatkan momen itu dengan mengajar mereka sesuai pemahamannya sebagai bocah yang tak pantas dijejali hal-hal mumet.

Apa kiat? Dan bagaimana cara menemukan jawaban yang tentu saja tak boleh nyeleneh dari kebenaran?

Hmhm… aku punya kuncinya. Itu adalah AlQuran al Karim. Ya, apa pun yang si kecil tanya, aku selalu merujuk pada Alquran. Karena di sana, terdapat  semua jawaban. Bedanya, untuk menjelaskan pada si kecil yang otaknya belum bekerja maksimal, kita tentu harus pintar-pintar memilih bahasa dan ungkapan agar mudah dipahami oleh mereka. Selain itu, sebagai orangtua kita juga harus memahami penjelasan ilmiah sehingga bisa menjelaskan berbagai hal ruhani dengan pendekatan yang lojik.

Sebenarnya, kenapa sih Allah mengilhami setiap manusia rasa ingin tahu dan kepenasaran yang begitu besar? Tak lain dan tak bukan supaya kita bisa mengenaliNya ‘kan? Karena konon, Allah sangat rindu dan ingin dikenali oleh para hambaNya. Hmmm… :) Sebagai khasanah tersembunyi sesungguhnya Ia tak pernah menyembunyikan Dirinya dari kepahaman para hambaNya. Masalahnya, sejauh mana kepahaman kita? Maka Ia akan mewujud dan mengenalkan Dirinya sesuai kemampuan kita untuk mengenaliNya. Ilmu itu pula yang diperintahkan pada Rasulullah SAW dalam menyiarkan dan menjelaskan khasanah dan hakikat Islam. Bahwa Rasulullah selalu berbicara pada setiap orang dengan bahasa dan kemampuan akal orang tersebut. Sangat masyhur sebuah hadist yang menjelaskan tentang adab Rasulullah itu. Dimana beliau bersabda, “Kalau saja Salman tahu apa yang aku bicarakan pada Abudzar Giffari, tentu ia akan menuduhku sesat. Dan kalau saja al Giffari tahu apa-apa yang aku bilang pada Salman, maka ia pasti akan membunuhku…”

Jadi, ya begitulah, segala sesuatu punya standarnya sendiri. Dan ketika si kecil banyak bertanya tentang segala sesuatu, please… sabarlah untuk menjelaskan padanya segala yang dia mau tahu. Itu merupakan kesempatan emas untuk memperkenalkan mereka pada Pemilik semesta yang juga satu-satunya penyebab keberadaan mereka di dunia fana. Dengan mengenalkan mereka sejak dini pada Kekuasaan Tertinggi, Insya Allah pengajaran itu akan menjadi sumbangsih terbesar sepanjang hidupnya. Dan Allah suka mengenalkan Dirinya pada yang ingin mengenaliNya…***

Bermaknakah Mimpimu?


Tak semua orang bisa mempercayai mimpi. Ada yang cuma menganggapnya sebagai bunga tidur atau semacam beban pikiran yang terbawa hingga alam bawah sadar. Tetapi banyak pula yang menerimanya sebagai sasmita atau tanda dari Yang Tertinggi. Dan di antara mimpi itu sendiri ada dua kategori, yakni mimpi yang begitu nyata seolah benar terjadi dan tetap jelas dalam benak walau tahun-tahun telah berlalu. Ada pula mimpi yang tanpa makna sama sekali sehingga walau pun baru semenit lalu terjadi namun kita tak bisa mengingatnya sama sekali.


Dan bagi saya pribadi, mimpi adalah sebagian sign atau tanda yang Allah titipkan kepada siapa saja yang Dia mau. Jika pada para Anbiya, Allah mengirimkan wahyu yang dibawa langsung oleh Ruhul Kudus Jibrail, maka kepada para Auliyanya, Allah membisikkan ilham dan hatif ke dalam sukma mereka. Ada pun kepada manusia biasa yang masih penuh lalai dan nista akan berbagai dosa, Allah cuma mengkomunikasikan tanda-tanda itu melalui mimpi di mana saat itu si ‘lalai’ tengah tidur dan ruhnya tengah melayang di alam berbeda. Dan saat itu, ruh-ruh itu berada dalam genggamanNya dalam keadaan murni karena terbebas dari nafsu manusiawinya sehingga sesuatu yang suci bisa memasukinya. Itu adalah mimpi yang dicurahkan Allah pada sebuah jiwa yang sedang tanpa daya dan tanpa kuasa untuk menolak sebuah kekuatan yang transit dalam alam bawah sadarnya.

Karena, pernahkah ada seseorang yang bisa memilih mimpi sesuai kesukaannya? Mampukah anda menolak sebuah mimpi seram ketika ia mulai memasuki alam bawah sadar anda?

Menuntun Saya Pada Sebuah Kenyataan
Secara jujur, kehidupan real saya banyak dipengaruhi oleh mimpi. Bukan berarti saya seorang pemimpi. Sebaliknya, saya adalah seorang yang super realistis. Tetapi mimpi-mimpi yang pernah terjadi sejak saya usia 6 tahun dan berlanjut hingga kini, banyak sekali yang menjadi nyata. Itu makanya saya sering kali mengalami  ‘deja vu’ di mana ketika melihat sebuah tempat, seseorang atau sebuah peristiwa, saya merasa pernah melihat itu sebelumnya. Dan seringkali, saya begitu mudah menafsirkan sebuah mimpi yang terjadi sehingga menjadikan saya sebagai seorang yang kurang excited ketika mengalami sebuah kejutan.  Karena terus terang, beberapa hal itu sudah singgah dalam alam tafsir dan praduga saya.

Salah satu mimpi yang saya selalu mengenangnya sebagai sebuah penjelasan dari ayat-ayat Allah adalah… terjadi 9 tahun lalu. Saat itu saya masih seorang wartawan politik di sebuah media ibukota. Mimpi itu terjadi sekitar jam 3 dini hari. Saya seolah berada di sebuah tempat yang hening, di sebuah rumah sederhana di atas bukit yang memiliki halaman luas dengan rerumputan yang menghampar bak permadani. Dan saat itu, suasana yang tercipta adalah malam purnama yang begitu temaram. Saya menengadah ke atas menatapi purnama yang begitu elok… dan ternyata, keindahan di atas sana bukan sekedar purnama tetapi seluruh langit adalah indah tiada tara.  Lengkungan langit yang terasa bak payung lebar yang sedang menaungi saya itu… penuh berisi ayat-ayat Allah yang saya ‘merasai’ dan ‘memahami’-nya sebagai  ‘Jauzan Kabir’. Oh, sungguh-sungguh indah. Keindahan yang luar biasa dan tanpa tara. Seandainya saya bisa tetap berada di sana…

Untuk beberapa saat saya terpana dalam kenikmatan yang maha tenang. Dan tiba-tiba seorang pengemis datang pada saya. Saat itu saya cuma punya uang Rp 8500. Maka saya memberikan padanya Rp 3500  karena saya masih membutuhkan Rp 5000 lainnya untuk pergi wawancara dengan seorang narasumber. Tetapi, pengemis itu menolak dan bilang, “Saya ingin yang lima ribu itu…”

Saya tak berkata apa-apa tetapi seketika saya ingat sebuah hadist qudsi yang menyatakan, “Jika engkau mendermakan sedikit hartamu dengan ikhlas karena Allah Ta’ala maka Dia akan membalas dan melipatgandakannya menjadi sepuluh kali lebih banyak…”

Maka saya memberikan uang lima ribu saya dan menerima Rp 3500 yang dikembalikannya.

Paginya, saya bangun dan mempersiapkan diri untuk pergi ke kantor. Mimpi itu tetap dalam benak saya baik ketika saya mandi atau pun ketika saya sedang dalam perjalanan ke kantor. Tiba di kantor, saya melihat Jeffri dan beberapa teman sedang bercanda di ruang tamu. Saya cuma senyum-senyum sama mereka tanpa berniat gabung. Tiba-tiba Jeffri mendekati saya di balik pintu dan memberikan sebuah amplop yang cukup tebal, “Ini uang lo…”

Saya terheran-heran menatapinya. “Yang bener lu? Gajian masih lama ‘kan?” cetus saya tak yakin.
“Bener, ini uang lo. Ambil deh…” dia meletakkannya di tangan saya.

Masih dengan ragu tapi ingin tahu, saya menerima amplop putih itu dan membukanya di meja saya. Wow… saya menatapi lembaran uang yang masih sangat keras pertanda baru dikeluarkan dari bank sejumlah Rp 500.000. Saya menoleh Jeffri dan dia cuma mengedipkan mata kanannya.

My God, dari mana uang ini? Kenapa Jeffri bilang bahwa itu uangku? Dan tiba-tiba, aku ingat mimpi semalam… ya Allah, inikah penjelasan dari ayat-ayatMu? Masya Allah! ***

keep smiling baby…

Ketersediaan kamera di berbagai handphone kini memberi kesempatan setiap orang menjadi fotografer, bahkan untuk dirinya sendiri.

Aku adalah salah satu di antara mereka yang enjoy dengan fasilitas teknologi ini. Obyek favoritku saat ini adalah si bontot, Maulana :) )) :

Maulana di usia 2 minggu...

Maulana di usia 2 minggu...

maulana dengan sepupunya, tazneem...

maulana dengan sepupunya, tazneem…
maulana bangun tidur...

maulana bangun tidur...

maulana dengan baju kelahirannya... (telanjang maksudnya...)

maulana dengan baju kelahirannya... (telanjang maksudnya...)

ketika kepercayaan tak terjaga…

Kepercayaan adalah sebuah harta yang harus dijaga. Ini benar adanya dan bukan sekedar omong kosong. Aku adalah yang sangat percaya dalam hal ini. Apalah artinya hidup tanpa sebuah kepercayaan; kepercayaan terhadap Allah, kepercayaan terhadap takdir, terhadap orang lain bahkan terhadap diri sendiri.

Ini adalah hal yang begitu melekat di dalam diriku. Kadang aku heran jika ada orang yang tak percaya padaku padahal aku sendiri menyimpan kepercayaan padanya, misalnya. Tetapi untuk menjadi seperti ini, sesungguhnya aku belajar dari sebuah pengalaman ketika masih berada di sebuah kampus, di Kota Kembang. Saat itu aku adalah seorang mahasiswa Jurnalistik dan tinggal di asrama dengan beberapa teman perempuan. Walau pun aku sekamar dengan Pipin, seorang dari Jasinga-Bogor, tetapi aku akrab juga dengan teman lain kamar. Layaknya gang perempuan, kita kompak dalam hal apa pun.

Walau pun aku agak tomboy tetapi aku bisa menyatu dengan mereka. Salah satu teman yang sangat dekat denganku adalah Sri, seorang gadis Sukabumi. Walau pun Sri tidak bisa dibilang langsing, tetapi dia sangat cantik. Kulitnya putih dan hampir tiada noda. Ia juga seorang manja dan berasal dari sebuah keluarga yang mapan secara finansial. Saat itu, dia juga punya seorang pacar yang sudah bekerja di sebuah bank yang cukup bergengsi. Hmhm… ini kadang membuat kami cemburu. Abis, aku dan yang lainnya masih seperti gadis belia yang cuma suka hura-hura dan tak terpikir untuk memiliki seseorang. Tetapi setiap kali kita melihat kedekatan Sri dengan tunangannya itu, mau tak mau kita memikirkan juga untuk punya seseorang yang bisa ‘dipikirkan’ dan ‘memikirkan’… ^-^

Kepercayaan

I am so sorry

I am so sorry

Suatu hari ia datang ke kamarku dan menangis. Ini seringkali terjadi. Setiapkali punya problem ia pasti datang padaku untuk curhat.

Tanpa ba bi bu lagi ia langsung menumpahkan isi hatinya, “Sri sedih sekali hari ini. Masa ada yang baca surat-surat pribadi Sri. Berani sekali orang yang membuka dan membaca surat pribadi orang…” katanya sambil menyeka air matanya.

Aku terhenyak. Aku tahu dan semua orang yang tinggal di asrama pun tahu di mana Sri menyimpan koleksi surat-surat cintanya. Itu adalah di sebuah kantung gantung di dinding depan tempat tidurnya. Dan kemarin, adalah aku yang membukanya bersama teman-teman. Kalau yang dicari adalah ‘biang kerok’nya pastilah aku yang kena karena aku yang memulai dan yang lain cuma nimbrung saja.

“Ke kamar Sri, yu?” ajaknya segera setelah tangisnya reda seraya menggamit tanganku menuju kamarnya.

Terus terang aku agak cemas tetapi entah mengapa aku tak juga berterus-terang padanya bahwa akulah si pelaku yang membuka surat pribadinya. Oh… aku merasa sangat malu dan nista karena telah mengkhianati kepercayaannya. Dan dia, seraya tetap menggamit tanganku, berjalan menuju kamarnya. Di sana telah berkumpul, Ani, Anna dan Rugaya. Mereka menatapiku penuh makna hingga membuatku salah tingkah.

“Koq ada sih yang berani buka-buka surat orang? Siapa nih yang buka surat Sri?” suara Sri tiba-tiba lantang dan memandang berkeliling dengan marah tetapi tidak padaku.

“Siaaapa? Bukan kita… Tuh dia!” jawab Ana dan langsung menunjuk padaku.

Oh…! Aku sangat kikuk sekali dan cuma memandang pada Sri tanpa sanggup berkata. Begitu pula Sri, dia memandangku tanpa berkedip dan tatapannya… duh, membuatku sangat makin merasa nista dan berdosa.

“Sungguh, kamu, Yo? Oh, koq begitu? Padahal Sri sangat mempercayaimu…” kata-katanya menghilang dan tersekat di kerongkongannya.

Aku tak berkata apa pun. Tak sanggup. Bahkan aku tak yakin sekarang, apakah saat itu aku meminta maaf atau tidak? Tetapi, sungguh… ! Momen itu tak pernah bisa terbuang dari ingatanku kendati waktu telah bergulir selama 17 tahun sejak peristiwa itu terjadi. Dan sejak kami lulus dari akademi itu tak pernah sekali pun aku bertemu dia. Namun peristiwa itu telah mengakar dalam benakku sehinggga kini aku selalu berusaha sedaya upayaku ketika sebuah amanah ditaruh dipundakku. Bagiku itu adalah sebuah beban yang harus dipertanggungjawabkan. Dan untukmu Sri, di mana pun kamu berada, tolong maafkan aku…(***)

tawa adalah terapi

Tertawa adalah cara terbaik untuk terapi diri sendiri, menurutku lho…

Daripada harus nonton suntuk film psikologis dan drama sentimentil, aku sih mending nonton film komedi yang berbobot dan menyegarkan… Selain merilekskan otot-otot, juga bisa membuat fresh suasana hati. Itu sekalian merangsang kembali hormon-hormon adrenalin…

Untuk membantu terapi itu, video ini layak ditonton, berkali-kali pun tetap okay.

Saturday Night Live – Mark Wahlberg Backstage

evening in Istanbul…

Evening In Istanbul…

Seuntai kata ini terasa begitu indah di kuping. So romantic. Bak sebuah obsesi, aku begitu memujanya. Padahal, aku sendiri tak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi ketika aku tiba di Istanbul?

Aku hampir yakin bahwa semua orang tahu kalo Istanbul adalah sebuah kota besar di Turki. Iya nggak sih? Hmmm… bicara tentang Turki selalu menghadirkan debar tersendiri di jantungku. Entah apa yang telah, sedang dan akan terjadi, aku tak tahu. Yang jelas, Turki punya tempat tersendiri di hatiku. Awalnya sih, aku menonton sebuah saluran tv Turki di parabola sekitar lima tahun lalu. Seringkali saluran ini cuma memutar kelompok orkestra dan lagu-lagu pop yang sangat hingar dengan penyanyi perempuan yang terlihat pusarnya. Aku pikir, seronok sekali penyanyi di negeri itu. Dan aku agak shock karena hampir 99% populasi di negeri itu justeru muslim. Wow! Nggak salah nih? Apa terjadi dengan mereka… pikirku.

Di kawasan Armutlu Tatil Koyü, sebuah tempat liburan keluarga dengan multi fasilitas kebugaran. Sangat sanitaris mengingatkan saya pada film "Island".

Kebetulan suamiku sendiri pernah tinggal di Turki jauh sebelum bertemu denganku. Maka, darinya aku banyak menyerap berbagai cerita tentang negeri tersebut. Beliau menceritakannya dengan penuh kesan sehingga yang tertanam di benakku adalah fantasi manis nan romantis. Maka, diam-diam, aku mulai menyukai negara itu dan pada saudara yang kerja di Amrik, aku menitip pesan untuk dibelikan beberapa album klasik Turki. Hmmm… aku mendapatnya beberapa. Membuatku sangat senang dan ‘memutuskan’ untuk menyukai musik Turki.

Aku bilang ‘memutuskan’ karena ketika aku menyukai sesuatu dan menggandrunginya, itu adalah karena keinginanku sendiri dan bukan dari faktor luar atau pun pengaruh obyek itu sendiri. So mulai saat itu, aku seringkali menghabiskan waktuku dengan menyimak lagu-lagu Turki. Maka aku mulai mengenal Ibrahim Tatlışes, Adnan Senşes, Mahsun Kırmızıgül, Kibariye de el el.  Suara mereka, wow… muerrrdu sekali. Belum pernah aku mendengar suara penyanyi semerdu mereka. Itu memang kemerduan yang asli dan bukan hasil rekayasa teknologi MIDI. Then.. makin sering mendengar musik dan lirik dalam bahasa Turki membuat aku mulai berminat mempelajari bahasanya.

Mesjid Sultan Ahmet di Istanbul...

Aduh biuung… kali ini aku benar-benar merasa ‘great’.  Bagaimana tidak. Pertama, aku suka musik dan lagu Turki. Kemudian aku mulai suka bahasanya yang benar-benar aneh dengan alphabet yang juga nyentrik, dan lebih parah, ternyata aku menemukan diriku sendiri tengah ‘in love’ pada negara itu. Wallahi, ini namanya sebuah keanehan dan sampai sekarang pun aku tetap merasa ‘aheng’ dengan yang terjadi pada diriku perihal Turki. What’s happening?

Pada suamiku, aku tuturkan bahwa aku merasa ada sebuah ikatan antara aku dan Turki. Ikatan seperti apa, aku sendiri tak tahu. Tetapi aku merasa begitu dekat dengan negara itu tanpa bisa menjelaskan, kedekatan macam apakah itu? So, ketika Ramadan yang baru berlalu kemarin aku habiskan setengah waktunya di Istanbul, aku begitu excited;) Mendengar mereka berbicara dalam bahasanya, oh… begitu mengesankan. Itu adalah bahasa yang sangat indah dan harmonis  konjugasinya. Dan sekedar ‘say hello’ aku bisa memulai sebuah percakapan sederhana semisal, “Selamün aleyküm. Nasılsınız?”.  Lantas, biasanya mereka akan menjawab, “Iyiyim”,  “Çok iyi” atau juga  “Hamdolsun”.

Tetapi, sebenarnya ‘nasılsınız’ itu apa sih? Yaa, layaknya salam pembuka, itu tak lain adalah ‘apa kabar’ atau ‘how are you’ dalam bahasa Inggris. Adapun iyiyim, çok iyi dan hamdolsun tak lain dan tak bukan adalah jawaban umum  yang berarti, ‘baik’ atau pun ‘alhamdulillah’.

Brother Country...

Yang lebih mengesankan, ternyata mereka sangat suka ketika tahu bahwa aku dari Indonesia.  Waktu itu aku sedang memilah beberapa barang souvenir buat oleh-oleh teman di Indonesia. “Where are you come from?” tanya pemilik toko.

“Indonesia..” jawabku menatapnya sesaat lantas kembali memilah.

“Indonesia? Oh, muslim. How are you?” wajah bapak pemilik toko itu seketika bersinar dan tersenyum. Ia memilih sesuatu di antara barang jualannya dan meletakkannya di telapak tangan kananku, “Bir hediye…” katanya.

Jembatan Bhosphoros

Oh, aku begitu terpesona dan menatapi barang yang diletakkannya di tanganku sebagai hadiah. Ternyata, itu adalah sebuah stiker magnit bertuliskan ‘ayet el kursi‘, ‘bereket duası‘ dan ‘nazar ayeti‘. Masya Allah.  Sebagai hadiah, itu memang Masya Allah. Dan sebagai ayat, itu pun Masya Allah, yakni terjadi atas kehendak Allah semata-mata. Terus terang, aku sangat tersanjung sekali dengan hadiah yang tiada ternilai itu. Subhanallah wa alhamdulillah.

Di tempat lain ketika aku sedang memilih sebuah hijab atau ‘yazma’ dalam bahasa Turkinya, pedagangnya lagi-lagi bertanya, “Where are you come from?”

Ketika aku bilang dari Indonesia, dia pun segera berseru, “Wow, brother country…”

Hmmm… itu mengingatkanku ketika tiba pertama kali di bandara internasional Kemal Attatturk. Passportku disatukan bersama yang lain yang berasal dari Amerika. Tiba-tiba petugas itu menatapi passport hijau yang tak lain adalah milikku. “Indonesia? Come first… please,” serunya menatapku. Maka aku pun menjadi yang pertama diizinkan masuk lebih dulu di antara rombonganku yang sebagian besar dari Amrik… ;)

Istiqlal…

Mengelilingi Istanbul dan sekitarnya, aku benar-benar merasa familiar setiapkali melihat bentuk kubah masjid mereka. Bentuk dan desainnya mengingatkanku pada kubah di masjid Istiqlal kita. Memang begitu lhoo… persis! Dan gaya berhijab gadis Turki… wah ini dia yang membuat aku heran setengah mati dan membatin tanpa henti. Tahu, kenapa? Gaya itu adalah… gaya yang aku pakai ketika pertama kali aku mulai berhijab yakni sekitar 97 an. Wow… apakah arti semua ini, pikirku. Dan ketika aku menjelang berangkat ke bandara untuk pulang ke Indonesia, seseorang memberiku cinderamata dua helai kerudung ala Turki tradisional. Saat itu, kembali aku dibuat termangu. Itu adalah persis sebuah kerudung yang mengingatkanku pada scarf ibuku puluhan tahun lalu ketika aku masih di SMP. Kain dan motifnya… ya Allah, aku berdesir dan berbisik, what’s the meaning of all these?

Akhirnya, Evening In Istanbul memang terjadi seperti adanya tanpa upaya dariku untuk memframenya. Itu terjadi atas kehendakNya saja. Dan nyata bahwa itu bukanlah sekedar Evening In Istanbul tetapi telah menjadi Everything In Istanbul… ***

cindera mata dari Iran…

Salah satu sikap burukku adalah cenderung tak mudah terkesan dengan hadiah atau pemberian dari orang lain. Dan sikap buruk lainnya adalah, aku pun tak mudah untuk bisa bersikap pura-pura suka jika memang tak suka.

Tetapi khusus lukisan yang satu ini, aku langsung jatuh hati pada pandangan pertama ketika suamiku membawanya ke kamarku. Ia bilang, “Seseorang yang baru datang dari Iran membawa ini untukmu…”

Wow…!

Aku ternganga menatapi sebelah tangan yang sedang menengadah penuh harapan itu. Tangan yang begitu sahaja dan menengadah ke Yang Tertinggi, ohhh… gambar ini begitu memikat dan mengikat perhatianku. Warna kelabunya yang penuh misteri adalah sebuah pesan yang tersembunyi. Dan di sana, ada sebuah pernyataan yang sangat kuat dan tegas. Itu adalah kepasrahan, penyerahan dan harapan yang sangat pasti dan terpusat pada satu inti kekuatan. Masya Allah.

Semoga Allah memberkahi orang yang meniatkan membeli gambar ini khusus untukku. Thank you, gracias, merci, eupharisto, grazie, danke, teşekkürler, arigato, terimakasih dan tak lupa, hatur nuhun…!

Bill Gates, Sang Raja Microsoft…

Barusan aku selesai nonton film tentang Bill Gates, Sang Raja Microsoft di sebuah tv kabel. Wuiihhh, menarik sekali. Bayangkan, film ini bisa membuatku terduduk lama di sofa sambil mata tetap terpaku ke layar tv. Bahkan aku beberapa kali berteriak marah ketika dua monikku beserta sepupunya bercanda keras dan merusak konsentrasiku. Hmm, jarang sekali aku bisa fokus dan tertarik dengan sebuah film. Bahkan film Brad Pitt pun tak akan mampu memakuku sedemikian rupa.

Film berjudul Pirate of Silicon Valley itu bertutur tentang perjuangan Bill Gates dalam mewujudkan ide-idenya untuk bisa diterima masyarakat dan dunia. Dia memang gila, layaknya seorang jenius… hehe…he…

Dan selama film itu, benakku sibuk berlompatan mengingat momen ketika dia datang ke Indonesia untuk bertemu  SBY, kalo tak salah mungkin sekitar 6 bulan lalu… Dalam kesempatan kedatangannya yang super langka itu ia berbicara di hadapan mahasiswa UI (Universitas Indonesia), Depok.

Tahu, apa yang dia bilang dan pesankan pada para mahasiswa yang notabene menganggapnya sebagai teladan yang pantas dicontoh…?

Dia bilang, “Jangan ikuti langkah saya…”

Lhaa… “How can, Mister?”

Tetapi, itulah yang dia pesankan. Entah bagaimana para mahasiswa menerimanya, aku tak tahu persis. Tetapi dia memang si super kaya yang layak diikuti jejaknya.***

Kiat seksi menjauhi pek tay…

Aku sangat suka membaca berbagai artikel seksologi dan kesehatan. Menurutku artikel-artikel itu sangat menarik dan selalu memberi wawasan baru. Dari situ aku juga tahu, ternyata banyak sekali perempuan yang problem dengan pek tay atau keputihan. Wah, ini memang murni penyakit perempuan.

Dan tentang pek tay itu, kemarin aku baca pula artikelnya di sebuah majalah yang disisipkan gratis di sebuah koran harian ibukota. Artikel itu menghabiskan berlembar-lembar halaman majalah namun sampai akhir kata, aku tak menemukan sesuatu yang baru di sana kecuali kalimat klise dengan tips yang juga aku yakin sudah dipahami oleh setiap perempuan.

Benakku berpikir, bagaimana mungkin artikel semacam ini menolong para perempuan?

Keprihatinan seperti itu membuatku berpikir untuk berbagi. Yes, why not? Kalo bisa dibilang beruntung, mungkin aku memang beruntung karena tidak termasuk sebagai penderita pek tay. Dan aku kira itu bukan sekedar keberuntungan sebagai hadiah cuma-cuma dari Dia Sang Pencipta tetapi lebih dari pilihan gaya hidup yang aku terapkan sehari-hari… :)

Well, menurutku paling utama yang harus dipahami oleh setiap perempuan adalah faktor penyebab pek tay itu sendiri. Apa sih? Jawabnya, ya tentu saja ketidakhijenisan organ kita sendiri. Katakanlah kita mencucinya saban kali kita pee atau pun mandi. Tetapi setelah itu kita menutupnya lagi dengan jenis panty yang mungkin tidak nyaman buat kulit dan membuat pori-pori kulit sekitar vagina (V)  tidak leluasa bernafas. Lebih ‘awful’ lagi jika setelah panty yang tak nyaman itu ternyata kita menambahkannya lagi dengan mengenakan celana jins misalnya yang notabene berlapis tebal… oh…! That’s really worse…

Padahal, idealnya, di iklim Indonesia yang tropis dan cenderung panas dan lembab, mengenakan baju yang menyerap keringat seharusnya penting dan mutlak supaya kulit tetap terangin-angin dan terhindar dari jamuran. Nah, ini dia! Jamur inilah salah satu yang harus diwaspadai oleh kita kaum hawa, berkaitan dengan problem pek tay…

Menurut para ginekolog yang saya baca artikelnya,  pek tay atau yang istilah medisnya adalah flour abus, merupakan cairan berlebihan yang keluar dari V. Diantaranya ada yang  berbahaya (fatologis) , ada juga yang tidak berbahaya (fisiologis). Yang fisiologis biasanya cenderung disebabkan oleh meningkatnya jumlah hormon pada periode haid atau hamil. Juga bisa terjadi ketika kita dalam kondisi stress, lelah dan kadang-kadang merupakan efek sampingan dari penggunaan kontrasepsi dan obat-obat tertentu. Indikasinya adalah, cairan tersebut hanya berwarna bening atau putih dan tidak berbau. Juga tidak gatal. Secara umum, kalo  cuma fisiologis, itu berarti tak mengganggu… atau, tak terlalu mengganggu karena kadarnya masih normal saja.

Sementara yang fatologis nih, yang sudah tak lagi normal, warnanya cenderung kuning, gatal dan tak sedap aromanya. Uh…! Yang satu ini yang bikin bete. Yang juga potensial menjatuhkan rasa percaya diri tiap perempuan. Iya ‘kan?

Trus, gimana dong? Ya, bagaimana pun, kalo sudah kena ya kita harus mengatasinya. Kalo menurutku sih, kalo memang sudah stadium berbau, ya kita mulailah concern dengann pembersihan. Mencuci bersih dan steril. Tapi ingat, please… jangan pake ‘pembersih sari kapur sirih’ atau sejenisnya yang dijual bebas di botol komersial. Kalo mau telaten, pakelah daun sirih langsung dan merebusnya sendiri serta memakainya dalam keadaan usai rebus. Atau, bisa juga coba pake yogurt. Ini nih resep bocoran dari seorang teman. Aku sendiri belum pernah memakainya, karena tak memerlukannya.

Tetapi, seperti yang kubilang sebelumnya, aku cenderung mengantisipasi segala sesuatu daripada mengatasinya. Maka, karena penyebab utama problem pek tay adalah kelembaban yang tidak hijienis… maka, bukankah lebih aman, mudah dan murah kalo kita ‘say goodbye to some panties…’?

That’s right! Itulah yang kulakukan secara pribadi. Hampir sepanjang waktu ketika aku di rumah, aku tak memakainya. Bukan berarti aku tak punya panties. Boleh dibilang aku adalah kolektor panties dalam berbagai style. Tapi aku memakainya ketika hendak bepergian atau ketika memang sedang ‘sir’ ingin tampil seksi. Tetapi menurut suamiku, lebih dari style apa pun, tak berpanty adalah lebih seksi bagi perempuan… hehe… he… iya ‘kan?

Dan sering pula ketika bepergian pun aku tak memakainya dengan syarat celana atau rok luar adalah terbuat dari bahan katun, rayon atau sesuatu yang ramah terhadap kulit. Ini benar-benar nyaman lho… Dengan trik ini aku memang benar-benar terbebas dari gangguan pek tay. Kewanitaanku terjaga dan suamiku pun senang karena merasa yakin bahwa aku selalu siap untuknya kapan pun dan di mana pun… tanpa panty! ;)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.